Senin, 01 Agustus 2011

ASMA


TINJAUAN TEORI ASMA

A.                DEFINISI
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruksi intermiten, reversible dimana trachea dan bronki berespon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Obstruksi jalan nafas umumnya bersifat reversible, namun dapat menjadi kurang reversible bahkan relative non reversible tergantung berat dan lamanya penyakit. Asma dapat menyerang pada sembarang usia. Jenis-jenis asma yaitu asma alergik, asma non alergik atau asma idiopatik dan asma gabungan antara keduanya.
B.                 ETIOLOGI
1.      Asma alergik disebabkan oleh alergen atau alergen yang dikenal (mis., serbuk sari, binatang, amarah makanan dan jamur). Kebanyak alergen didapat di udara dan musiman.pasien dengan asma alergik biasanya mempunyai riwayat keluarga yang alergik.
2.      Asma idiopatik atau non alergik, tidak berhubungan dengan alergen spesifik. Fakor-faktor, seperti common cold, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi dan polutan lingkungan dapat mencetuskan serangan.
3.      Asma gabungan adalah bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik maupun dari bentuk idiopatik nonalergik.
C.                 MANIFESTASI KLINIS
Asma dimanifestasikan dengan penyempitan jalan nafas. Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat hiperaktivitas bronkus. Gejala-gejala asma antara lain :
1.                  Adanya tiga gejala umum yaitu batuk, dispnea dan mengi
2.                  Rasa sesakndalam dada secara tiba-tiba
3.                  Pernafasan lambat dan laborious
  1. Eskspirasi lebih susah dan lebih panjang dari inspirasi sehingga pasien merasa lebih yaman dengan posisi duduk dan menggunakan otot aksesori pernafasan
  2. terjadi sianosis sekunder terhadap hipoksia hebat dan gejala-gejala retensi karbondioksida, termasuk berkeringat, takikardi, dan pelebaran tekanan nadi.
Gejalanya bersifat proksismal, yaitu membaik pada siang hari dan memburuk pada malam hari. Serangan asma biasanya terjadi pada malam hari. Batuk pada awalnya susah dan kering tetapi segera menjadi labih kuat.

D.                PATOFISIOLOGI
E.   KOMPLIKASI
Komplikasi asma dapat mencakup status asmatikus, fraktur iga, pneumonia, dan atelektasis. Obstruksi jalan nafas, terutama selama periode akut.

F.   PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis asma berdasarkan :
  1. Anamnesis : riwayat perjalanan penyakit, factor-faktor yang berpengaruh terhadap asma, riwayat keluarga dan adanya riwayat alergi serta gejala klinis.
  2. Pemeriksaan fisik
  3. Pemeriksaan laboratorium : darah (terutama eosinofil, IgE total, IgE spesifik), sputum (eosinofil, spiral Curshman, kristal Charcot-Leyden).
  4. tes fungsi paru dengan spirometri atau peak flow meter untuk menentukan adanya obstruksi jalan nafas.

G.    PENATALAKSANAAN
Tujuan terapi asma adalah :
  1. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma.
  2. Mencegah kekambuhan
  3. mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya.
  4. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan exercise.
  5. Menghindari efek samping obat asma.
  6. Mencegah obstruksi jalan nafas yang ireversibel.
Terapi medikasi untuk asma antara lain :
1.      Agonis Beta
agen ini mendilatasi otot polos bronchial. Agen adrenergic juga dapat meningkatkan gerakan silia, menurunkan mediator kimiawi anafilaksis, dan dapat menguatkan efek bronkodilatasi dari kortikosteroid. Agen adrenergic yang paling sering digunakan adalah epinefrin, albuterol, metaproterenol, isoprotereniol, isoetharine, dan tabutamin. Diberikan secara parenteral atau melalui inhalasi.
2.      Antikolinergik
Antikolinergik seperti atropine tidak pernah dalam riwayatnya tidak pernah digunakan karena efek samping sistemiknya.derivatif amoniun kuaternari, seperti atropine metilnitra, dan ipratrotium bromide (Atroven) mempunyai efek bronkodilator yang sangat baik dan efek samping sistemiknya minimal.
3.   Metilsantin
Aminofilin, thoefilin digunakan karena mempunyai efek bronkodilatasi. Agen ini merilekskan otot polos bronkus, meningkatkan gerakan mucus dalam jalan nafas dan meningkatkan kontraksi difragma. Aminofilin diberikan secara intravena. Teofilin diberikan secara per oral. Hati-hati dalam pemberian obat ini, jika terlalu cepat, dapat terjadi takikardi atau disritmia jantung.
3.      Kortiikosteroid
Diberikan secara intravena (hidrokortison), secara oral (prednisone, prednisolon) atau melalui inhalasi (beklometason, deksametason). Medikasi ini diduga mengurangi inflamasi bronco konstriksor.
4.      Inhibitor sel mast
Natrium kromolin adalah bagian integral dari pengobatan asma.  Diberikan melalui inhalasi. Medikasi ini mencegah pelepasan mediator kimiawi anafilaktik, yang mengakibatkan bronkodilatasi dan penurunan inflamasi jalan nafas.
            Penatalaksanaan keperawatan :
1.      Pengkajian
Data yang dikumpulkan dari pengkajian harus mencakup :
a.       Riwayat keperawatan fungsi paru normal klien pada masa lalu dan fungsi paru saat ini serta tindakan klien yang digunakan untuk mengoptimalkan oksigenasi.
b.      Pemeriksaan fisik paru melalui inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
c.       Peninjauan kembali hasil laboratorium dan hasil pemeriksaan diagnostic.
Riwayat keperawatan harus berfokus pada kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan oksigen.untuk fungsi paru, yang perlu dikaji adalah adanya keletihan batuk, sesak nafas, mengi, nyeri, pemaparan lingkungan, masalah pernafasan masa lalu, penggunaan obat-obatan saat ini dan riwayat merokok.
2.      Perencanaan
Perencaan keperawatan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi actual dan potensial. Sasaran dari rencana tersebut harus berpusat pada :
a. Klien mempertahankan kepatenan jalan nafas
b. Klien mempertahankan dan meningkatkan ekspansi paru
c. Klien mengeluarkan sekresi paru
d. Klien mencapai peningkatan toleransi aktivitas.
e. Oksigenasi jaringan ditingkatkan atau dipertahankan
f. Fungsi paru klien diperbaiki dan dipertahankan
3.   Implementasi
Intervensi keperawatan untuk meningkatkan dan mempertahanlkan jalan nafas meliputi tindakan mandiri keperawatan (perilaku peningkatan kesehatan dan upaya pencegahan, pengaturan posisi, tehnik batuk) dan tindakan tidak mandiri (terapi oksigen, tehnik inflasi paru, hidrasi, fisioterapi dada dan obatr-obatan). Implikasi tindakan keperawatan yang dapat diberikan antara lain :
a. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemberian oksigen untuk atasi dispnea, sianosis dan hipoksemia.
b. Identifikasi tanda-tanda dehidrasi dengan pemeriksaan turgor kulit.
c. Memebrikan terapi cairan untuk mencegah dehidrasi melalui evaporasi.
d. Menganjurkan pasien untuk menghemat energi tubuhnya dan menyediakan ruangan yang tenang dan bebas dari polutan pernafasan.
e. Mendidik pasien untuk segera melaporkan tanda dan gejala yang menyuklitkan.
f. Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan.

E.                 DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1.            Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan ketidaksamaan perfusi-ventilasi
2.                  Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan denganbronkokonstriksi, peningkatan produksi lender, batuk tidak efektif dan infeksi bronkopulmonal.
  1. Pola pernafasan tidak efektif berhubungan dengannafas pendek, lender, bronkokonstriksi dan iritan jalan nafas.
  2. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keletihan sekunderakibat peningkatan upaya pernafasan dan insufisiensi pernafasan dan oksigenasi.
  3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, hipoksemia, dan pola pernafasan tidak efektif.
  4. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kurang sosialisasi, ansietas, depresi tingkat aktivitas rendah dan ketidakmampuan untuk bekerja.
  5. Potensial komplikasi PPOM termasuk atelektasis, pneumotorak, gagal nafas, hipertensi paru dan status asmatikus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar